Menu Close

Menjadi Peserta dalam  Uji Coba Desa Wisata Ramah Perempuan Berwawasan Lingkungan- Kelecung Eco Village-Tabanan-Bali (5-8 September 2024)

Di Indonesia data statistik Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa perjalanan Wisatawan Nusantara (wisnus) selama tahun 2023 didominasi oleh laki-laki sebesar 66,51%, sedangkan wisnus perempuan yang melakukan perjalanan wisata adalah sebesar 33,49% walaupun tiga tahun terakhir mulai beranjak, bahkan perjalanan wisata tahun 2023 didominasi oleh generasi milenial sebanyak 64% (enam puluh empat persen). Kondisi demografi wisatawan mancanegara atau wisatawan internasional menunjukkan bahwa perempuan mendominasi traveler dunia dengan angka fantastis, yakni 80% . Lebih lanjut data Forbes2024 menunjukkan dari angka tersebut, 60% nya adalah traveler perempuan yang bepergian sendiri (solo traveller). Perempuan dalam rumah tangga juga berperan dalam menentukan tujuan wisata bagi keluarganya, dan terlibat dalam berbagai aktivitas usaha pariwisata.

Melihat potensi wisata yang demikian besar di Indonesia, dan dengan memadukan antara peningkatan perekonomian dimulai dari desa, serta dengan lebih banyak lagi melibatkan peran perempuan secara langsung dalam pengembangan ekonomi desa, tiga Kementerian berkolaborasi membuat Pedoman Desa Wisata Ramah Perempuan. Pedoman tersebut ditandatangani oleh Menteri Parekraft/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Sandiaga S. Uno, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) – Bintang Ayu Puspa Damayanti, dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi- Abdul Halim Iskandar, Agustus 2024. Desa Wisata Ramah Perempuan merupakan salah satu wujud komitmen Pemerintah dalam melaksanakan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals – SDGs) ke-5, yaitu: mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum perempuan.

 Anggota PIMTI Perempuan terlibat langsung dalam penyiapan pedoman tersebut, baik sebagai penanggung jawab, pelaksana, maupun sebagai tenaga ahli dan praktisi perempuan dan kesetaraan gender, dan pariwisata. Diskusi terkait pedoman tersebut dilaksanakan pada tanggal 6 September 2024 dengan Narsum Lenny N Rosalin-Tenaga Ahli penyusunan Pedoman, yang  menyampaikan gagasan Desa Wisata Ramah Perempuan tersebut secara singkat, Aniek Puspawardani- Pegiat dan pemrakarsa Kelecung Eco Village dan Prof Darma dari Universitas Saraswati-Bali sebagai penanggap di Banjar Desa Kelecung. Pada intinya, Desa Wisata Ramah Perempuan adalah sebuah inovasi yang sangat kreatif, memadukan kekayaan budaya Indonesia, kearifan lokal,  sekaligus tempat pemberdayaan perempuan dan ekonomi Desa yg secara spesifik melibatkan perempuan sejak perencanaan hingga monitoring dan evaluasinya.

Pada pedoman tersebut disampaikan yang dimaksud sebagai Desa Wisata Ramah Perempuan adalah sebuah konsep pengembangan desa wisata yang mengintegrasikan antara penguatan aspek sektor kepariwisataan dengan peran, fungsi dan partisipasi aktif perempuan di desa terutama di bidang ekonomi, lingkungan dan sosial budaya, yang pembangunan dan pengembangannya didukung dan diselenggarakan oleh perempuan baik sebagai wisatawan maupun pelaku usaha atau pengelola. Di dalam implementasinya, terdapat tujuh unsur yang perlu mendapatkan perhatian para pengelola Desa Wisata Ramah Perempuan, yaitu: (1) Kelembagaan, (2). Atraksi Wisata dan Fasilitas Wisata,(3). Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Desa Wisata Ramah Perempuan, (4). Pengembangan dan Pengelolaan Usaha, (5). Pengembangan dan Pengelolaan Pengunjung, (6). Pengelolaan Risiko, dan tak kalah penting adalah adanya (7). Promosi.

Pada unsur (1) kelembagaan, disyaratkan adanya keterlibatan perempuan dalam kepengurusan kelembagaan desa yang ada, minimal 15%. Perempuan juga dilibatkan dalam setiap proses pengelolaan desa wisata, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengembangan, pemantauan dan evaluasi, serta adanya forum komunikasi perempuan dalam tahun tersebut dalam rangka menyerap aspirasi mereka. Pada unsur (2) Atraksi Wisata dan Fasilitas Wisata, secara ringkas disebutkan ketentuan keterlibatan perempuan dlm atraksi wisata, jaminan keamanan dan keselamatan, atraksi wisata ramah perempuan yang mengandung edukasi, adanya fasilitas wisata yang mendukung (toilet, ruang laktasi, sarana transportasi, dan akses penting terkait kesehatan pengunjung, dsb). Pengembangan SDM diarahkan kepada terlibat aktifnya perempuan dalam pelatihan-2 pengelolaan desa wisata (sebagai pemandu, pengelola homestay, kuliner, dsb). Pada unsur ke empat, perempuan didorong untuk memiliki akses terhadap pembiayaan, pengelolaan homestay,  menjadi pelaku usaha wisata, dsb. Unsur kelima terkait Pengembangan dan Pengelolaan Pengunjung, dimana pengelola didorong untuk memiliki data terpilah pengunjung perempuan dan laki-laki, memiliki informasi yg lengkap terkait tradisi setempat, yang dibolehkan dan yang dilarang, serta adanya fasilitas pemberian saran atau masukan dari pengunjung. Unsur ke enam yakni Pengelolaan Risiko adalah pendekatan sistematis dimana desa wisata mampu menyiapsiagakan,  merespon dan mengelola kondisi krisis yang mungkin timbul. Memiliki kerja sama dengan berbagai pihak terkait kesehatan, kebencanaan, keselamatan. Yang tak kalah penting perlunya promosi  sebagai unsur ke tujuh atas keberadaan Desa Wisata beserta keunggulan yang dimilikinya.

PIMTI, mulai dari presidium hingga anggota mendapatkan undangan dari Sekretaris Kemenparekraft/Barekraft, Ni Wayan Giri Adnyani untuk menguji coba Desa Wisata Kelecung atau yang lebih dikenal sebagai Kelecung Eco Village di Kabupaten Tabanan-Bali, selama 5-7 September 2024. Dengan menginap di fasilitas homestay yang ada, merasakan tinggal di rumah adat Bali dengan pengaturan yang unik sesuai budaya dan kepercayaan mereka, mengikuti persiapan hingga pelaksanaan  Melukat, yakni pembersihan diri dan jiwa secara spiritual menggunakan air di Pura Beji Amerta Gangga- Desa Kelecung, berlatih melukis ala seniman Bali, dan menyiapkan serta menikmati   kuliner Bali yang cukup terkenal ke seantero negeri: Ayam Betutu, Sate lilit, ayam sambel matah, tum ayam,dll. Melihat dan mengalami langsung keseluruhan acara yang dikemas, memberikan keyakinan bahwa Kelecung Eco Village dapat menjadi contoh Desa Wisata Ramah Perempuan di Indonesia, dan juga satu-satunya di dunia. Sebuah pengalaman yang membahagiakan.

Laporan: Puji Winarni