Mengambil tempat di halaman Pondok Pesantren Salafiyah Kholidiyah Plumpang, Desa Plumpang Kecamatan Plumpang- Tuban, Jawa Timur, seminar bertajuk “Standardisasi Produk Unggulan Daerah Siap Ekspor” di gelar dan mendapatkan tanggapan yang sangat antusias dengan hadirnya 260 peserta seminar yang berasal dari berbagai kalangan: UMKM produk makanan minuman, batik, mahasiswa, IPPNU Cabang Tuban dan Bojonegoro, perwakilan Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Tuban khususnya UPT Balai Latihan Kerja Tuban, staf pengajar lembaga-lembaga pendidikan di bawah Yayasan Salafiyah Kholidiyah, Muslimat dan Fatayat NU, serta para santri Ponpes Salafiyah Kholidiyah Plumpang. Seminar membahas tentang pentingnya kegiatan standardisasi bagi produk-produk unggulan daerah untuk mampu memperluas pasar, baik pasar domestik, nasional, regional dan bahkan pasar internasional.
Seminar diawali sambutan selamat datang oleh Sekretaris Pembina Yayasan Salafiyah Kholidiyah, Puji Winarni, dan dibuka langsung oleh Presidium Ikatan PIMTI Perempuan Indonesia- Sally Salamah yang memperkenalkan tentang PIMTI dengan salah satu tusinya dalam bersinergi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk memajukan NKRI. Seminar dipandu oleh Srie Agustina-Widyaiswara Utama Kementerian Perdagangan sebagai moderator dengan tiga pembicara. Moderator mengundang Bpk Muhammad A.S Hikam, Pembina Yayasan dan juga Menteri Negara Riset dan Teknologi Kabinet Indonesia Bersatu di era Presiden Abdurrahman Wahid (1999-2001) untuk memberikan tanggapan singkat terkait topik seminar, dan kemudian dilanjutkan oleh 3 pembicara lainnya. Standardisasi menjadi alat untuk menjaga mutu/ kualitas, menjamin pasokan barang dan melindungi konsumen dari produk yang tidak layak dikonsumsi, atau melindungi kesehatan, keselamatan dan keamanan konsumen. Deputi Bidang Penerapan Standarisasi dan Penilaian Kesesuaian BSN- Zakiyah menekankan perlunya memahami SPK yang berlaku ketika produk akan memasuki pasar yang lebih luas. Staf Ahli Menteri Perdagangan bidang Iklim Usaha dan Hubungan Antar Lembaga-Fajarini Puntodewi memberikan gambaran terkini terkait situasi perekonomian nasional yang melandai pertumbuhannya. Menurut beliau, ditinjau dari volume perdagangan yang bertambah tetapi terjadi penurunan harga, dimana produk-produk primer yang belum mendapatkan nilai tambah selama ini mendominasi produk ekspor Indonesia.
Oleh karena itu perlu sekali dilakukan upaya untuk meningkatkan nilai tambah (value added) produk ekspor Indonesia. Beliau memberikan tiga kata kunci yang perlu selalu menjadi rujukan pelaku usaha yang ingin merambah ekspor: (1) kuantitas, (2) kualitas dan (3) kontinyuitas produk. Tiga hal tersebut seringkali sulit untuk dipertahankan oleh pelaku usaha skala UMKM. Mas Indra Tony Syayuti menjadi pembicara ke tiga yang menyampaikan langsung upaya penambahan nilai pada produk Legen (nira pohon siwalan) menjadi berbagai produk minuman berkelas dan mampu menembus pasar ekspor dengan berbagai diversifikasi produknya. Beliau juga menyampaikan banyaknya persyaratan di dalam negeri yang cukup menantang dan perlu untuk diperbaiki oleh berbagai K/L yang berkenaan. Karena produknya adalah minuman maka BPOM menjadi lembaga yang sangat berperan dalam kelancaran proses ekspornya. Sesi diskusi menjadi sangat menarik, karena tidak hanya membahas sebatas pada penerapan Standar pada produk, NIB, NPWP, OSS, tetapi juga skema bantuan pemerintah dalam memajukan UMKM khusus produk unggulan untuk ekspor.
Selain itu, kemampuan PT. Legen Tren International- perusahaan milik Indra Tony Syayuti yang dapat menembus pasar ekspor di 8 negara menarik untuk diikuti kiprahnya dan juga sharing pengalamannya. Dari seminar tersebut BSN, khususnya Kantor Layanan Teknis (KLT-BSN) Jawa Timur mendapatkan 2 kelompok binaan baru UMKM produk pangan (Kecamatan Rengel) dan kain Batik (Kota Tuban) untuk pembinaan lebih lanjut.
Penulis : Puji Winarni