Ibu-Ibu yang tergabung dalam Ikatan Pimpinan Tinggi (PIMTI) Perempuan Indonesia, baru baru ini menjadi peserta uji coba Desa Wisata Ramah Perempuan di Desa Kelecung, Kabupaten Tabanan – Bali. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, mereka yang dikoordinir oleh Sesjen Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ibu Dra Ni Wayan Giri Adnyani, tidak melewatkan momen untuk berkunjung ke Rumah Desa, yang sarat dengan kearifan lokal keluarga Bali. Selain menikmati sejarah tentang keunikan rumah desa tersebut, Ibu Ibu PIMTI mencoba dan menjajal aneka resep masakan tradisional Bali di Rumah Desa, Tabanan-Bali, (Sabtu, 7 September 2024).
Pemilik Rumah Desa, yang juga menjadi chef masakan Bali, mengawali kegiatan pengenalan kuliner Bali dengan memberikan pengantar sejarah berdirinya Rumah Desa, yang merupakan warisan hingga 6 (enam) generasi. “ Rumah ini unik karena tata letak dan ruangan, atau yang disebut sebagai Asta Kosala Kosali menjadi landasan filosofis, etis dan ritual dalam budaya Bali” jelasnya. Konsep tata ruang, berdasarkan pada konsep keseimbangan kosmologis, hirarki tata nilai, orientasi kosmologis, dan ruang terbuka yang dibuat secara proporsional. Beliau juga menunjukkan koleksi lontar yang dimasa lalu digunakan sebagai media mencatat dan mendokumentasikan segala sesuatu yang penting.
Ibu Ibu PIMTI diajak untuk belajar langsung mengolah bahan-bahan masakan untuk menjadi makan siang peserta yang berkunjung. Menu masakan seperti: Ayam Betutu, Ayam Sambal Matah, Sate Lilit Ikan, Base Genep yang menjadi dasar bumbu aneka makanan, Kuah Siap atau chicken stock- bahan dasar soup, dan Tum Ayam. Semua dilengkapi dengan resep yang dituliskan dalam Bahasa Inggris, mengingat demikian banyak wisatawan asing yang ingin juga mencoba mengolah langsung kuliner Bali.
Peserta yang mengikuti olah resep ini, dibagi menjadi 4 (empat) group besar terdiri dari 5-7 orang, dan masing-masing menyiapkan bahan dan bumbu Ayam Betutu, Sate Lilit Ikan, Base Genep dan Soup Pepaya Tuna. Sebagian besar peserta mengerti dan memahami berbagai rempah-rempah yang digunakan dalam acara tersebut karena semua rempah dan bumbu yang diperlukan ada di dalam dapur masyarakat Indonesia. Kombinasi dan takaran yang berbeda antar masakan dan antar daerah. Kunyit, kencur, jahe, laos, sereh, daun jeruk, daun salam, ketumbar, lada hitam, gula palem, terasi, bawang merah, bawang putih, cabe rawit besar, kelapa parut dan bunga kecombrang menjadi bumbu lengkap masakan Bali, tetapi semua peserta sepakat aktif menakar, mengulek bumbu, ngulik rasa, dan mencicipinya. Suasana kompetisi antar group terasa sekali, dan juga terlihat para ahli memasak atau yang sudah terbiasa memasak, dengan cepat memahami instruksi yang ada pada tiap-tiap resep.
Wajah wajah gembira tampak di semua peserta. Happy cooking PIMTI berakhir menjadi happy eating PIMTI. Suguhan istimewa makan siang berasal dari tangan-2 trampil peserta, plus tambahan lainnya, seperti bakwan jagung dan appetisernya : pisang goreng yang juga sudah dinobatkan sebagai appetizer nomor wahid dunia.
Mempelajari kuliner Bali langsung dari tangan pertama, selain menambah wawasan khasanah kuliner Nusantara, juga memberikan keyakinan pada peserta, khususnya ibu-ibu yang memiliki usaha kuliner rumahan untuk dapat meningkatkan keanekaragaman masakannya, sehingga akan menambah banyak pelanggan dan sekaligus pemasukan.
Kesan mendalam tertinggal semua di hati peserta. Mengikuti uji coba desa wisata ramah perempuan, mendapatkan banyak sekali pengetahuan dan ketrampilan yang sangat berguna: ibarat kata pepatah, satu kali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Bravo desa Kelecung, bravo Rumah Desa. Semoga berkesempatan kembali kesana kembali (PJ/SA).