Tabanan-Bali, 6 September 2024. Ibu-Ibu yang tergabung dalam Ikatan Pimpinan Tinggi (PIMTI) Perempuan Indonesia, bersama Menteri PPPA, Ibu Bintang Puspayoga menjadi peserta uji coba desa wisata perempuan di Desa Kelecung, Tabanan, Bali, 6 September 2024. Mereka menjelajahi dan menelusuri Hutan Komunal yang ada di Desa Kelecung di kawan Tegal Mangkeb, Kecamatan Selemadeg Timur, dengan antusias. Pada kesempatan tersebut, Ibu Bintang Puspayoga dan PIMTI Perempuan Indonesia yang hadir menyatakan dukungannya terhadap eksistensi dan keberlanjutan Hutan Komunal. Bahkan ibu Menteri melakukan penanaman pohon didampingi oleh Sekjen Kemenparekraft- Giri Adnyani dan Presidium PIMTI- Sally Salamah, diikuti oleh anggota PIMTI lainnya yang hadir. Penanaman pohon ini sebagai penanda dan jejak PIMTI di Hutan Komunal. Turut hadir pada acara tersebut adalah Camat Selemadeg Timur Kabupaten Tabanan, Kapolres dan pejabat daerah lainnya.
Hutan Komunal yang dibuat diatas lahan 1300 m2 dihibahkan dan dikelola oleh masyarakat lokal Desa Kelecung dan sekitarnya. Pada lahan seluas 1300 m2 tersebut ditanam berbagai pohon langka dari daerah setempat, antara lain pohon kelecung, pohon badung, dan pohon-pohon langka lainnya dengan metoda Miyawaki. Metode ini dikembangkan oleh Akira Miyawaki yang diakui menjadi salah satu metode paling efektif untuk memulihkan kembali hutan-hutan yang telah rusak. Sang penemu metode yaitu Akira Miyawaki adalah seorang ahli botani dan ekologi asal Jepang. Keunggulan dari metode ini terletak pada pertumbuhan pohon yang 10 kali lebih cepat, 30 kali lebih lebat, dan dapat berisi 100 lebih keanekaragaman hayati sebagaimana vegetasi yang tumbuh pada habitat asli hutan. Aniek berharap, pohon-2 yang dikembangkan di hutan tersebut akan tumbuh jauh cepat dari harapannya. Pada hutan komunal tersebut juga dikembangkan cara-cara mengelola air dan energi terbarukan (penggunaan sinar matahari yang cukup kuat) untuk digunakan secara sirkular.
Hutan Komunal dikelola dengan dua tujuan utama: (1) memproteksi lahan yang ada dari kerusakan dan (2) mengamankan akses komunitas (masyarakat) untuk pengelolaan sumber-sumber kehutanan yang lestari. Program ini dimaksudkan untuk membangun ketahanan masyarakat desa dalam jangka panjang. Masyarakat Desa Kelecung, diketahui beberapa waktu lalu hingga saat ini semakin tidak memiliki akses yang cukup ke lahan yang ada, persawahan, hutan dan bahkan kawasan pantai akibat derasnya penjualan lahan ke pihak-pihak yang ditengarai bukan penduduk asli daerah tersebut.
Kekuatiran terhadap hilangnya akses penduduk atas lahannya sendiri lah yang mendorong seorang aktivis Women Earth Alliance Leader dan Accelator Alumni- Aniek Puspawardani- membuka Hutan Komunal seluas 1300 m2 diatas lahan pribadi milik keluarganya seluas 1400 m2 di daerah Tegal Mengkeb-Selemadeg Timur-Tabanan, Bali. Dimulai sejak tahun 2002, Aniek dengan keyakinan yang kuat terus mengembangkan Hutan Komunal dan mendapatkan banyak sambutan dan dukungan, baik dari masyarakat maupun dari berbagai pihak di luar negeri.
Menteri Bintang berpesan kepada seluruh yang hadir, khususnya para pimpinan daerah: “kita harus mendukung upaya yang dilakukan mbak Aniek untuk mengembalikan lingkungan yang lebih baik bagi masa depan bangsa.” Beliau juga berharap bahwa Hutan Komunal ini akan menjadi tempat pembelajaran bersama masyarakat, dan juga generasi muda untuk lingkungan yang lebih lestari. Khusus kepada Aniek dan Tim, beliau berpesan tetap semangat terus maju dalam mengelola pembangunan berbasis perempuan di Desa Kelecung bisa diikuti oleh daerah lainnya di Bali. Terakhir, Ibu Bintang Puspayoga menambahkan “melalui keberadaan Hutan Komunal, semoga masyarakat desa adat, dan khususnya generasi mudanya dapat belajar langsung cara-cara pengelolaan hutan lestari di Hutan komunal tersebut,” tutup beliau. (PW/SA)