Menu Close

IMPIAN (Inspirasi Perempuan) Indonesia

Perjuangan Perempuan Indonesia, dalam Pandangan Ibu Retno L.P  Marsudi

(Menteri Luar Negeri RI 2014 – 2024)

Ibu Retno Lestari Priansari Marsudi menjadi bintang utama dalam Talkshow Peringatan Hari Ibu (PHI) Tahun 2024 yang diselenggarakan oleh BPKP, di ruang auditorium Gandhi, BPKP, Jakarta pada Selasa, 24 Desember 2024. Video singkat dengan judul “Sang Kapten Diplomasi dengan segudang prestasi” mengawali acara talkshow dengan tema “Kontribusi Perempuan dalam Mengawal Indonesia Emas 2045” itu. Video pendek tersebut bercerita tentang kiprah Ibu Retno L.P. Marsudi sebagai perempuan Indonesia dengan berbagai prestasi. Talkshow dipandu oleh Ibu Gesang Cholinaning Verdani (Ibu Naning), Subkoordinator Penyelenggara Uji Kompetensi JFA di Pusat Pembinaan Jabatan Fungsional Auditor), BPKP.

“Stand by me; and I will stand by you”

Ada hal yang unik ketika perempuan yang menjadi Menteri Luar Negeri Indonesia perempuan Indonesia pertama, dan menyandang berbagai predikat dan jabatan, salah satunya sebagai Utusan Khusus PBB Urusan Air itu tampil menjadi tamu di talkshow. Lagu “Stand by me”, lagu lama yang dipopulerkan oleh Ben E. King pada tahun 1961, mengiringi langkah Ibu Retno, demikian panggilannya, naik ke panggung talkshow pagi hari itu.

Ketika ditanya oleh moderator, Ibu Retno berkisah bahwa lagu “Stand by me” punya nilai dan kenangan tersendiri bagi beliau. Kala itu Ibu Retno bersama tim diplomat Indonesia tengah bernegosiasi untuk memperjuangkan agar Indonesia dapat diterima menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Lagu “Stand by me” menjadi “theme-song” perjuangan Delri tersebut. “Stand by me; and I will also stand by you”, demikian tutur Ibu Retno mengambil lirik lagu tersebut, yang disambut hadirin dengan tepuk tangan meriah.

Perjuangan perempuan di Indonesia dan dalam konteks dunia

Ibu Retno mengatakan bahwa makna Hari Ibu yang kita peringati setiap tanggal 22 Desember, tidak hanya memberikan apresiasi kepada kaum perempuan, namun di dalamnya terdapat elemen perjuangan. Dan perjuangan kita dari 1928 sampai sekarang belumlah selesai.

Apakah kesetaraan gender semakin membaik di tataran dunia ? Menurut pandangan Ibu Retno, jawabnya iya, tapi tidak  atau belum secepat yang kita inginkan.  Beliau menyitir apa yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PBB dalam sambutannya pada  peringatan International Women’s Day (8 Maret 2024),bahwa : “At our current rate of change, full legal equality for women is some 300 years away”. Artinya kesetaraan gender secara global masih tertinggal jauh, belum seperti yang kita harapkan. Perempuan dan anak selalu menerima dampak yang paling berat (dari bendana, dll). Oleh karena itu perjuangan untuk kesetraaan gender harus terus dilanjutkan. “Kita harus jadi agents of change”, ujar Ibu Retno.

Pendidikan untuk Perempuan adalah Investasi

Di dunia pendidikan terdapat 122 juta anak perempuan yang tidak memiliki akses pendidikan. Hanya 49% negara di dunia dimana anak perempuan mendapatkan  akses ke elementary school, 42% yang sudah mencapai gender parity untuk secondary school; sementara hanya 25% yang  sampai upper secondary. Data ini menunjukkan semakin tinggi tingkat pendidikan, persentase akses yang dimiliki perempuan semakin kecil. Padahal, semakin terdidik perempuan, akan semakin baik kondisi social dan ekonomi sebuah keluarga, masyarakat,negara dan bangsa karena akan lebih banyak hal yang bisa kita lakukan.

“If we are not investing in women we will lose 50% of our population. Investing in women empowerment is not an option; it is a must. Investing in women is investing in a brighter future.”

Edukasi kepada perempuan akan dapat mendorong terjadinya tranformasi, tidak hanya di level komunitas, namun juga negara, bahkan juga di tingkat dunia.  Pendidikan yang terbatas dan tidak selesainya pendidikan 12 tahun bagi anak perempuan akan menyebabkan kerugian  15 triliun USD dari sisi produktivitas. Data menunjukkan betapa pentingnya perempuan dalam masyakarat, ekonomi dan sosial. Investasi pada perempuan dan anak harus diperkuat, maka masyarakat akan lebih kuat dan sejahtera. Investasi ini juga akan menciptakan komunitas yang lebih stabil dan berketahanan.

Perempuan dan Perannya bagi Perdamaian Dunia

Berkaca dari dari pengalaman peran perempuan dalam kebijakan politik luar negeri,  Indonesia sebenarnya termasuk berpeluang besar untuk maju, dalam pendidikan dan pemberdayaan, bahkan untuk perempuan selain bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan misalnya adanya pelatihan bagi para  pengungsi Palestina dan kaum perempuan di regional Pacific. Contoh lainnya yaitu dengan adanya  isu yang termasuk paling kuat, yaitu : women and security (perempuan sebagai agen perdamaian). Banyak negosiasi dan mediasi perdamaian, dimana persentase keterlibatan perempuan masih kecil. Padahal tingkat keberhasilan dan tingkat sustainabiltas-nya akan lebih tinggi jika perempuan dilibatkan dalam negosiasi perdamaian.

Indonesia termasuk satu dari 10 besar negara yang berkontribusi dalam perdamaian. Dari tahun ke tahun, data menunjukkan bahwa jumlah perempuan Indonesia yang menjadi penjaga perdamaian semakin meningkat. Di tingkat dunia, jumlah perempuan penjaga perdamaian naik 63 %. Ini merupakan bukti bahwa perempuan dapat menjadi agen-agen perdamaian yang handal, dalam  hal konseling, kesehatan, dll.

Perempuan Indonesia dalam Mengawal Visi Indonesia Emas 2045

Terkait dengan tema yang diangkat dalam talkshow ini, yaitu tentang isu SDM menyongsong Indonesia Emas 20245, maka SDM kita harus bagus. Untuk menciptakan SDM yang bagus, maka pendidikan harus berkualitas. SDM Indonesia saat ini sebagian besar atau 62,1% adalah lulusan SMP saja. Pemerintah akan terus melakukan upaya-upaya perbaikan, karena kita tahu pendidikan adalah kunci. Di sisi lain, kita juga patut bersyukur bahwa jumlah perempuan Indonesia telah mampu mengenyam pendidikan tinggi mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini dicontohkan dari tingginya jumlah mahasiswi perempuan dibandingkan dengan mahasiswa laki-laki, khususnya di fakultas-fakultas tertentu (kedokteran, psikologi).

Namun, pertanyaan dan tantangannya adalah, kesetaraan ini belum terefleksi di ranah ekonomi, misalnya: dalam mengembangkan UMKM ternyata bagi para pelaku perempuan masih tidak mudah. Demikian juga pada level pembuat keputusan, perempuan masih kurang. Kita perlu mencapai angka yang setara (parity), namun bukan berarti kita akan mendominasi dan mengalahkan laki-laki. Ibu Retno mencontohkan, di Kementerian Luar Negeri, sekarang jumlah diplomat perempuan terus didorong untuk bertambah, terus didorong untuk “breaking the glass ceiling”, dan mengatakan “saya bisa”. Dan ternyata bisa, contohnya adalah Ibu Retno sendiri.

Kita perempuan harus memberdayakan diri. Harus memberi contoh (syiar kebajikan). Dunia memerlukan kebaijkan, walaupun sedikit. World needs kindness. Kesuksesan ternyata bisa dibarengi dengan kebajikan. Karena perempuanlah yang meng-inject kebajikan kepada anak-anak. Perempuan adalah sumber kebajikan, sumber values.

Ibu Retno mengajak para perempuan Indonesia  terus berjuang untuk kemanusiaan, dan perempuan harus siap bermitra dengan laki-laki. Perempuan jangan pernah menyerah; karena keluarga, masyarakat, negara, dan dunia memerlukan kita. Be strong, never give up, demikian tegasnya.

Bagaimana kisah perjuangan seorang Retno Marsudi sebagai perempuan ?

Perjalanan menuju titik sukses memerlukan perjuangan luar biasa dan determinasi yang sangat kuat dan kokoh. Lahir dari keluarga sederhana, Ibu Retno merasa dulu adalah “no body”, bukan siapa-siapa. Namun demikian beliau tidak pernah melepaskan cita-citanya untuk menjadi seorang diplomat. Mengapa ingin menjadi seorang diplomat ? Alasannya sebenarnya sederhana. Seorang anak dari keluarga sederhana, melalui lacar kaca TVRI dalam acara “Dunia Dalam Berita”, kala itu Bu Retno tertarik melihat para negosiator  dan diplomat berkiprah di kancah global. Selain itu, beliau juga belum pernah naik pesawat. Dari hal-hal kecil tersebut kemudian menjadi gumpalan cita-cita yang besar. Jadi di masa mudanya, beliau menghadapi double challenges: menjadi anak orang biasa, yang masuk ke dunia yang didominasi oleh kaum laki-laki.  

“Ibu mengatakan jangan takut terhadap siapapun, kecuali takut kepada Tuhan YMK. Maju dan jangan takut, jika kita benar. Terutama untuk anak muda perempuan, jangan berkecil hati ketika when you are no body. Bekerjalah dengan keras dan jangan berhenti melakukan  kebajikan.  Berkat Tuhan sangat luar biasa”.

Jika ingin membangun rumah, batu bata-nya harus bagus. Kalau mau sukses, harus kerja keras. Kalimat tersebut disampaikan oleh Ibu Retno, sebagai ungkapan betapa membangun keluarga yang baik itu sangat penting, baik bagi kaum perempuan, maupun laki-laki. Kita tidak akan bisa menjalani kehidupan dengan baik, jika keluarga kita goyang. Keluarga yang terbangun dengan baik adalah suatu pondasi yang kuat, yang membuat kita semua tenang. Membangun keluarga di rumah, maupun “keluarga” di tempat kerja, pada dasarnya adalah membangun suatu tim kerja.If you trust your team, your team will trust you. Karena kita bukan orang terpintar di dunia”. Demikian pungkas Ibu Retno, mengakhiri sesi berbagi inspirasinya kepada seluruh perempuan Indonesia.

Dari talkshow kerjasama BPKP dan PIMTI dalam rangka Peringatan Hari Ibu 2024

Kontribusi Perempuan dalam mengawal Indonesia Emas 2045

Jakarta, 24 Des 2024
(Dilaporkan oleh Novi W; edit PW-)