Menu Close

PIMTI dan Hari Ibu

Sebuah Catatan Refleksi dari Peringatan Hari Ibu (PHI) ke-96 tahun 2024

Sejarah Peringatan Hari Ibu di Indonesia

Sejarah telah meninggalkan jejak-jejak perjuangan kaum perempuan Indonesia dalam perjalanan bangsa Indonesia, untuk mewujudkan peranan dan kedudukan perempuan Indonesia dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Perjuangan pendekar perempuan di berbagai tempat di Indonesia, seperti Tjuk Njak Dien di Aceh, Nyi Ageng Serang di Jawa Barat, R.A Kartini di Jawa Tengah, Christina Martha Tiahahu di Maluku Tengah, Rasuna Said di Sumatera Barat, serta masih banyak lagi yang lainnya, merupakan embrio kebangkitan perjuangan perempuan Indonesia.

Setelah lahirnya Budi Utomo pada tahun 1908, banyak lahir perkumpulan perempuan di berbagai tempat, seperti Aisiyah, Wanita Katolik, Putri Merdeka, dan lain sebagainya. Kongres Pemuda Indonesia pertama pada 30 April s.d 2 Mei 1928,  adalah  tonggak momentum dimana perempuan ditempatkan sebagai satu titik sentral pembahasan, mengenai kedudukan perempuan dalam masyarakat Indonesia.

Kongres Perempuan Indonesia I dilaksanakan tidak lama setelah Sumpah Pemuda, pada 22–25 Desember 1928, dengan tujuan menyatukan perkumpulan perempuan-perempuan Indonesia dalam satu Perhimpunan Perempuan Indonesia. Kongres I telah melahirkan langkah besar bagi kehidupan perempuan Indonesia, yaitu: Pertama, tercapainya hasrat untuk membentuk sebuah organisasi perempuan solid, yang ditandai dengan kelahiran sebuah organisasi perempuan yang dinamakan “Perikatan Perempuan Indonesia”. Kedua, kongres tersebut telah melahirkan tiga mosi yang keseluruhannya berorientasi pada kemajuan perempuan, yaitu: (1) tuntutan penambahan sekolah rendah untuk anak perempuan Indonesia; (2) perbaikan aturan dalam hal taklik nikah; dan (3) perbaikan aturan tentang sokongan untuk janda dan anak yatim pegawai negeri (KPPA, 2024).

Selanjutnya, pada Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung tahun 1938, tanggal 22 Desember dinyatakan sebagai Hari Ibu melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional Yang Bukan Hari libur. Sejak saat itu, tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu, menjadi hari nasional yang diperingati setiap tahun oleh seluruh bangsa Indonesia.

Hari Ibu tidak sama dengan “Mother’s Day” ataupun “International Women’s Day”

Sebagaimana diingatkan oleh Menteri Pemberdayaan dan Perlindungan Anak, Ibu Arifatul Choiri Fauzi pada  puncak acara PHI ke-96 tahun 2024 pada 22 Desember 2024, di Balai Kota Tangerang, Banten, bahwa peringatan Hari Ibu tidak sama dengan “Mother’s Day” yang sering diucapkan orang. Sebagaimana dikutip dari www.wikipedia.com, Mother’s Day dirayakan oleh masyarakat di beberapa negara di berbagai belahan dunia (sekitar 75 negara) setiap minggu kedua Mei. Selain itu, ada pula beberapa negara lain yang memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) setiap 8 Maret.

Bagi kita sebagai bangsa dan masyarakat Indonesia, Hari Ibu bukan sekedar peringatan akan peran Ibu sebagai perempuan dan pernyataan rasa cinta kepada Ibu. Lebih dari itu, Hari Ibu adalah bagian dari sejarah perjuangan bangsa. Hari Ibu diperingati bangsa Indonesia untuk mengenang dan menghargai perjuangan perempuan dalam merebut dan mengisi kemerdekaan (Kompas, Senin, 23 Desember 2024). Peringatan Hari Ibu (PHI) merupakan momentum penting kebangkitan bangsa, penggalangan rasa persatuan dan kesatuan serta gerak perjuangan perempuan yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Oleh karenanya, Hari Ibu selayaknya diperingati dan dimaknai lebih dalam oleh seluruh masyarakat Indonesia.

PIMTI dan refleksi dari Peringatan Hari Ibu ke-96

Tema peringatan hari Ibu ke-96 tahun 2024 adalah “Perempuan Menyapa, Perempuan Berdaya Menuju Indonesia Emas 2024”.  Dalam tema ini digarisbawahi bahwa keberhasilan perempuan dalam mendukung kemajuan bangsa terlihat sangat nyata, bahkan sebelum Indonesia meraih kemerdekaanya. Perempuan dengan sensitivitas dan kepekaan sosialnya menjadi ujung tombak dan elemen penting kekuatan kolektif bangsa pada masa-masa sulit. Contohnya, pada masa sulit pandemi Covid-19, perempuan telah membuktikan resiliensinya dengan menjadi garda terdepan dalam upaya melawan pandemi tersebut, dalam peran perempuan sebagai tenaga kesehatan, sebagai pelaku usaha, perempuan pekerja, seniman, pelajar, hingga ibu rumah tangga yang harus terus memastikan anggota keluarganya tetap sehat dan bertahan dalam kondisi yang tidak mudah.

Di masa kini, sebagaimana tercantum dalam Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden, Indonesia Emas 2045 adalam visi besar yang berlandaskan pada empat pilar utama, yakni pembangunan manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, penataan pembangunan, dan pemantapan ketahanan nasional serta tata kelola pemerintahan. Di dalam pilar-pilar tersebut, pemberdayaan perempuan menjadi elemen yang sifatnya fundamental. Perempuan Indonesia, dengan potensi dan kontribusinya, diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan menuju Indonesia yang berkeadilan dan sejahtera, namun juga menjadi penggerak utama dalam inovasi, transformasi sosial, dan penguatan karakter bangsa.

Apa relevansi pesan dari tema PHI 2024 tersebut dengan cita dan karya Ikatan Pimpinan Tinggi Madya Perempuan Indonesia (PIMTI) ? Bagaimana PIMTI memaknainya ?

PIMTI memiliki visi dan tujuan yang mengacu pada Asta Cita, yaitu untuk berkolaborasi untuk mengakselerasi perwujudan perempuan berdaya guna  mendukung tujuan pembangunan nasional

Ikatan PIMTI Perempuan Indonesia, yang baru memperingati hari lahirnya yang ke-6 pada 18 Desember 2024 yang lalu, menyambut baik dan akan senantiasa mengobarkan semangat peringatan Hari Ibu ke-96 tahun 2024. PIMTI akan selalu menyapa, dan berupaya keras untuk memberdayakan perempuan Indonesia, di berbagai penjuru tanah air, di berbagai sektor pembangunan.

Tantangan ke depan tidaklah mudah. PIMTI bertekad untuk terus maju dan terus mendorong para perempuan Indonesia melalui kiprah para Pimpinan Tinggi Madya Perempuan Indonesia, menuju Indonesia Emas 2045. Hari Ibu adalah hari yang istimewa bagi para anggota PIMTI. Bukan hanya karena setiap anggota PIMTI adalah seorang perempuan, seorang istri dan pendamping bagi suami, serta seorang Ibu bagi putra-putrinya. Namun, lebih dari itu, beyond segala apresiasi yang ditujukan pada perempuan, PIMTI percaya bahwa gerak langkah PIMTI melalui kolaborasi dengan berbagai pihak akan berdampak bagi akselerasi pemberdayaan perempuan di Indonesia. Indonesia Emas 2045 adalah suatu keniscayaan. PIMTI hadir untuk menyapa setiap perempuan Indonesia, memberikan cinta, daya dan karsa, sebagai dorongan untuk menempuh perjalanan penuh tantangan menuju cita-cita bangsa yang mulia.

Selamat Hari Ibu ke-96 Tahun 2024 dari PIMTI untuk seluruh perempuan Indonesia.

Jakarta, 23 Desember 2024
NW